Sukses Dagadu dan Raxzel Lewat Kaos Oblong
Sumber : Portal HR
Bisnis ternyata tidak se-njelimet yang dibayangkan. Eksistensi Dagadu dan Raxzel, merek oblong dalam negeri, nyatanya lahir tanpa proses perencanaan dan strategi panjang. Kuncinya hanyalah passion dan take action!
Merek Dagadu Djokdja begitu melekat bagi masyarakat Yogyakarta dan pecinta kaos oblong. Perjalanan usaha ini dirintis dari keresahan sejumlah mahasiswa kreatif dari kampus Universitas Gadjah Mada pada awal 1994. Mulanya, mereka ingin menyampaikan minat dan idealisme tentang gagasan mengenai artefak, peristiwa, bahasa, serta budaya masyarakat Yogyakarta melalui rancangan grafi s yang nyeleneh dan nyentrik, sekaligus membuat penasaran. Uniknya, media yang dipilih adalah kaos oblong.
Direktur dan pendiri PT Aseli Dagadu Djokdja, A. Noor Arief kepada Majalah Human Capital berbagi bagaimana Dagadu bisa eksis selama lebih dari 15 tahun. Arief menceritakan sebutan “Dagadu-Djokdja” merupakan brand atau merek dagang sekaligus nama produsen. Arief mengakui, sebagaimana gagasan dan aktivitas spontan yang terjadi pada kelompok anak-anak muda kreatif saat memulai kegiatan wirausaha, Dagadu Djokdja pun muncul tanpa alasan dan latar belakang yang jelas.
“Nama tersebut muncul di saat-saat terakhir menjelang hari pertama penjualan. Itu pun hanya didorong oleh kebutuhan praktis untuk memberi nama sebutan bagi sebuah produk, jauh dari strategi terencana dalam mengembangkan sebuah merek,” tuturnya. Arief menambahkan, serangkaian penjelasan perihal nama tersebut baru disusun belakangan ketika sejumlah orang mulai menanyakan arti ataupun makna di balik nama dan gambar mata yang senantiasa menempel di setiap produk Dagadu.
Menurut Arief, Dagadu dalam bahasa slengean anakanak muda Yogyakarta berarti “matamu”. Di kemudian hari nama ini diberi penjelasan. Pertama, dalam wacana desain grafi s, fi gur mata adalah salah satu idiom yang digunakan untuk menggambarkan citra kreativitas. Dagadu yang hadir melalui logo berbentuk dasar mata diharapkan dapat mewakili pandangan kelompok yang selalu berusaha menempatkan kreativitas sebagai aspek utama dalam setiap aktivitasnya.
Arti Dagadu yang kedua adalah, citra mata diasosiasikan secara bebas dengan aktivitas sightseeing atau cuci mata dengan berjalan-jalan keliling kota. Ini diharapkan dapat merepresentasikan kepedulian kelompok ini terhadap masalah-masalah perkotaan dan ke pariwisataan. Sedangkan arti lain dari Dagadu adalah sebagai kosa-kata yang familiar dalam pergaulan informal di Yogyakarta. “Hingga pada gilirannya diharapkan dapat mewakili citra produk sebagai cinderamata khas Yogyakarta,” imbuh sarjana arsitek ini.
Arief menyebutkan, Dagadu saat ini memiliki 9 orang tenaga design creative dari 50 orang karyawan di semua divisi. Dalam hal pengelolaan SDM, Arief berterus terang tidak mempunyai strategi khusus. “Paling kami menciptakan iklim bahwa Dagadu itu menjadi rumah bagi karyawan, pendiri, dan mitra binaan,” sambungnya. Perjalanan panjang memang tidak dipungkiri Arief menjadikan Dagadu makin dewasa dalam urusan bisnis.
Namun demikian, hal yang paling dikhawatirkan Arief ternyata justru masalah rutinitas. “Rutinitas adalah musuh dari inovasi, sehingga kami merasa perlu membuat semacam terminal untuk memutuskan rutinitas dengan kegiatan bersama seperti outing dan lainnya,” ia menjelaskan.
Mengenai SDM kunci di Dagadu, Arief tidak terlalu ambil pusing bila ada karyawannya yang diambil perusahaan lain. “Kami bersyukur Yogyakarta ini memberikan atmosfi r yang baik sehingga belum pernah ada bajak-membajak talent. Yang ada karyawan justru resign karena ingin mengembangkan diri. Kalau untuk urusan ini, justru kami sangat mendukung dan mendorong. Malah di antara mereka banyak yang menjadi mitra kerja Dagadu,” tuturnya.
Di lain tempat, cerita Try Atmojo dalam membesarkan kaos oblong bermerek Raxzel tidak berbeda jauh dengan Dagadu. Pada awalnya Try tidak berpikir jauh untuk terjun dan menekuni bisnis kreatif. “Saya terpikir untuk mulai bisnis ini karena dari pengamatan dan survei kecil-kecilan di industri ritel fashion. Kenapa memilih berwirausaha, karena jalur ini yang relatif paling mudah untuk mulai, hanya diperlukan keberanian, keyakinan, dan ketajaman feeling yang bisa diasah. Hal-hal lainnya bisa learning by doing,” katanya.
Try menjelaskan strategi awal dan tahapan yang dia lalui dalam memulai bisnisnya. “Bisnis distro adalah bagian dari bisnis ritel fashion pada umumnya. Karena berkonsep independent store, mau tidak mau saya harus mencari dan memilih lokasi yang tepat,” katanya. Target market distro adalah anak-anak ABG dan anak-anak kuliahan. Karena itu, Try melanjutkan, dalam memilih lokasi store ia mencari tempat yang banyak didatangi anak muda, bisa di perumahan, mal atau tempat hangout favorit anak-anak muda.
Ia menambahkan, selain memilih lokasi, strategi khusus untuk bisnis distro terletak pada bagaimana pemiliknya mengonsep dan mendesain layout toko, memilih jenis barang, membangun promosi, serta membaca tren mode. Saat ini Try mengoperasikan enam gerai distro di wilayah Tangerang dan sekitarnya. “Target khusus 2010 adalah mengembangkan brand Raxzel agar semakin dikenal di industri ini, baik dari segi kualitas maupun distribusinya,” ujar Try berharap.
Dari sisi SDM, Try mengakui bahwa industri kreatif memerlukan SDM yang unik. “Memang industri ini tidak terlepas dari pertemanan serta komunitas. Dalam hal rekrutmen di posisi tertentu seperti desainer dan creative, misalnya, memang agak selektif. Ini karena terkait dengan selera dari konsep brand produk kami,” katanya menjelaskan.
Try meneruskan, untuk posisi lain seperti store manager dan staf toko, perekrutan dilakukan dengan mencari SDM yang lebih dekat dengan target konsumen dan berpengalaman. “Sedangkan untuk pengembangan karyawan dan upaya mempertahankan mereka, secara regular kami selalu berdiskusi, studi banding dan memberikan informasi-informasi terkini tentang industri ini, selain dengan pola reward dan membangun ikatan personal,” tuturnya.
Soal perencanaan produk di Raxzel, Try menyebutkan, jangka waktunya relatif lebih pendek. “Siklus industri ini berkonsep limited produk. Dalam satu design kami hanya memproduksi maksimal 60 pieces. Karena itu kami harus terus-menerus meng-update tren-tren terbaru. Caranya dengan banyak bergaul, surfi ng internet, dan lain-lain,” ujarnya.
Sementara itu, Arief menuturkan, di Dagadu dalam setahun penanggalan tidak dilakukan pembagian tema model. “Biasanya kami menyikapi dari topik yang ramai diperbincangkan. Pesannya sederhana, kami ingin menunjukkan kepedulian namun tidak lantas ikut-ikutan atau latah. Justru di situlah tantangannya. Kami saat ini tengah mengumpulkan ide-ide yang akan diangkat untuk 2010 mendatang,” ungkapnya.



.jpg&size=600&res=90)












