Jurus Ampuh Bertahan Lama di Bisnis Distro
www.swa.co.id Kamis, 17 Juli 2008 Oleh : Eva Martha Rahayu Demam bisnis distro sempat berada di titik puncak tahun 2002 dengan 300-an pemain. Kini, kompetisi ketat merontokkan nyaris 50%-nya. Bagaimana lika-liku sejumlah distro yang masih bertahan? Biang kemacetan di akhir pekan. Itulah julukan yang selalu dialamatkan ke sebuah gedung di Jl. Riau 18, Bandung. Gedung itu memang berbeda dari deretan bangunan di depan, kiri dan kanannya yang berupa gerai factory outlet (FO). Di sana ada skate park, lahan luas yang sering dipakai untuk konser musik dan tempat nongkrong anak gaul. Ya, anak-anak muda sangat akrab dengan gerai yang dikenal sebagai 18th Park itu. Boleh dibilang, 18th Park adalah satu-satunya distribution outlet (distro) terbesar di kawasan itu, bahkan di Bandung. Di satu atap, 18th Park terdiri dari 23 toko dengan 200 merek produk. Mulai dari fashion, tas, sepatu, aksesori, sepeda hingga kuliner. Dulu gedung 18th Park merupakan gerai FO Emirate yang menjual aneka busana Muslim. Mungkin karena sepi pembeli, garai Emirate ditutup dan gedungnya ditawarkan ke Rommy Zulkarnain. Kebetulan kala itu Rommy adalah pemasok Emirate dan memiliki konsep bisnis distro yang unik. “Dalam perjanjian sewa gedung ini, saya tidak boleh buka FO lagi,†kata Rommy. Di tangannya, per Mei 2006 bangunan tua seluas 6.500 m2 itu disulap menjadi distro yang bak magnet mendatangkan muda-mudi Bandung dan sekitarnya, bahkan Jakarta. Memang Rommy baru dua tahun terakhir terjun ke bisnis distro. Namun, ia sudah belasan tahun bergumul dengan dunia bisnis garmen atau FO. Paling tidak, ia sudah paham karakter dasar bisnis fashion itu. Menurutnya, ada dua hal yang membedakan distro dari FO: pertama, eksklusivitas. Produk distro merupakan hasil kreasi anak muda kreatif dengan jumlah desain yang terbatas, sedangkan produk FO hasil manufaktur yang bersifat massal. Kedua, segmen pasar; distro membidik kawula muda, sedangkan FO menyasar orang dewasa. Menurut Ketua Umum Kreatif Independen Clothing Community, Tb. Fiki Chikara Satari, karakter bisnis distro adalah easy come easy go. “Pemainnya gampang datang dan pergi,†ujar pemimpin perkumpulan pengusaha distro se-Indonesia itu. Asalkan punya desain fashion kreatif, mereka yang berminat menjajal usaha ini bisa menitipkan produk ke distro yang dikelola dalam satu atap dengan berbagai merek. Jadi, tidak perlu modal besar untuk produksi barang ataupun sewa gedung sendiri. Ia mencontohkan, saat membuka distro Airplane miliknya di bawah bendera CV Arrasy Stylisindo Aesthetic, cuma ada modal sekitar Rp 300 juta. Lantaran kurang serius menggarap pasar distro yang diakui sejumlah pemainnya mengalami trial and error, tak mustahil jika lama-kelamaan mereka berguguran akibat seleksi alam. Persaingan sengit bisnis distro yang awalnya muncul pada 1996 itu membuat mereka tak bisa eksis. “Kalau tidak salah, sekarang jumlah distro yang kecil-kecil cuma belasan yang masih hidup, seperti distro Anonim dan Arena di Bandung, serta distro Bloop dan Square Inc di Jakarta,†ujar Yusuf Zainudin, pemilik bisnis clothing merek Proshop dan Rockster. Sementara itu, distro-distro yang masih bertahan, kalau dipukul rata, umurnya 10 tahunan. Salah satunya, distro Airplane yang dibesut Fiki bersama dua rekannya pada 1998 kini berbiak menjadi tiga gerai di Bandung. Hebatnya, Airplane juga memasok produk ke 94 distro di Indonesia.



.jpg&size=600&res=90)












