<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Raxzel Creative Independent Blog</title>
	<atom:link href="http://blog.raxzel.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.raxzel.com</link>
	<description>Indonesian Online Distro</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Apr 2010 14:17:35 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>150 Clothing Ramaikan IICA Fest Bandung</title>
		<link>http://blog.raxzel.com/?p=89</link>
		<comments>http://blog.raxzel.com/?p=89#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 14:14:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Raxzel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Distro]]></category>
		<category><![CDATA[IICAFEST]]></category>
		<category><![CDATA[clothing]]></category>
		<category><![CDATA[kickfest]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.raxzel.com/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[Setelah sukses dengan JAKCLOTH tahun lalu di Jakarta, Indonesian Indipendent Clothing Association akan menggelar festival clothing dari seluruh Indonesia di Bandung. Acara yang digelar selama tiga hari dari Jumat-Minggu (9-11/4/2010)di Monumen Perjuangan Jawa Barat Jalan Dipatiukur ini akan menghadirkan 150 clothing dengan jumlah booth sebanyak 178.
Bendahara IICA Ali Murtopo atau Ali Gimbal festival clothing-clothing yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong><img class="alignleft size-medium wp-image-90" title="iicafest" src="http://blog.raxzel.com/wp-content/uploads/2010/04/iicafest-212x300.jpg" alt="iicafest" width="212" height="300" />Setelah sukses dengan JAKCLOTH tahun lalu di Jakarta, Indonesian Indipendent Clothing Association akan menggelar festival clothing dari seluruh Indonesia di Bandung. Acara yang digelar selama tiga hari dari Jumat-Minggu (9-11/4/2010)di Monumen Perjuangan Jawa Barat Jalan Dipatiukur ini akan menghadirkan 150 clothing dengan jumlah booth sebanyak 178.</p>
<p>Bendahara IICA Ali Murtopo atau Ali Gimbal festival clothing-clothing yang tergabung dalam festival ini datang dari seluruh Indonesia. Antara lain Jogya,<br />
Jakarta, dan Bandung sendiri.</p>
<p>&#8220;Paling banyak clothing dari Jogya,&#8221; jelas Ali usai konferensi pers IICA Fest di Gedung Telkon Jalan Japati, Kamis (3/4/2010) lalu.</p>
<p>IICA sendiri merupakan asosiasi clothing dari Jakarta sebagai wadah untuk clothing atau distro yang belum tergabung dalam Kreative Independent Clothing Kommunity (KICK) yang basisnya di Bandung. &#8220;Tapi anggota KICK pun ada yang ikut di IICA Fest, kita berhubungan baik,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Tak hanya expo, IICA Fest juga menyuguhkan panggung musik yang menghadirkan band-band indie antara lain Tengkorak, The Milo, Mocca. Selain itu, mengundang<br />
band internasional The Caliban.</p>
<p>Untuk hari pertama tiket masuk IICA Fest sebesar Rp 5 ribu, hari kedua Rp 20 ribu dan ketiga Rp 10 ribu. Pengunjung ditargetkan 55 ribu orang. &#8220;Di JAKCLOTH<br />
pengunjung sampai 60 ribu orang,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Meski turun dari jumlah pengunjung JAKCLOTH, Ali yakin, IICA Fest di Bandung kali ini tidak akan kalah dari JAKCLOTH 2009.</p>
<p>Sumber : <a href="http://bandung.detik.com/read/2010/04/03/104703/1331065/486/150-clothing-ramaikan-iica-fest">www.bandung.detik.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.raxzel.com/?feed=rss2&amp;p=89</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Parade 2009</title>
		<link>http://blog.raxzel.com/?p=86</link>
		<comments>http://blog.raxzel.com/?p=86#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Feb 2010 00:06:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Raxzel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Distro]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[clothing]]></category>
		<category><![CDATA[kickfest]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.raxzel.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Sumber : The Parade 
Mengulang tradisi sukses pada tahun sebelumnya, tahun 2009 ini akan segera hadir sebuah festival clothing &#38; creative community gathering event yang terbesar dan paling prestisius di Yogyakarta dengan title The Parade 2009 : Yogyakarta Annual Clothing Festival
Keberhasilan KICK Yogyakarta sebagai penyelenggara dalam mendatangkan lebih dari 50 Label Clothing Terbesar dan 15 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-58" title="theparade2009avatar" src="http://blog.raxzel.com/wp-content/uploads/2010/02/theparade2009avatar.jpg" alt="theparade2009avatar" width="150" height="205" />Sumber : <a href="http://www.the-parade.co.cc/2009/12/parade-2009.html">The Parade </a></p>
<p>Mengulang tradisi sukses pada tahun sebelumnya, tahun 2009 ini akan segera hadir sebuah festival clothing &amp; creative community gathering event yang terbesar dan paling prestisius di Yogyakarta dengan title The Parade 2009 : Yogyakarta Annual Clothing Festival</p>
<p>Keberhasilan KICK Yogyakarta sebagai penyelenggara dalam mendatangkan lebih dari 50 Label Clothing Terbesar dan 15 Komunitas Kreatif yang datang dari seluruh kota Yogyakarta dan kota-kota besar (Jakarta, Bandung, dan lainnya) telah menjadikan event ini sebagai barometer sekaligus trendsetter bagi penggemar fashion indie label dan distro pada umumnya.</p>
<p>Yogyakarta Annual Clothing Festival yang diberi title â€œTHE PARADEâ€ juga merupakan magnet yang mampu menyedot lebih dari 40.000 pengunjung selama 3 hari pelaksanaan, menjadikan event ini sebuah ikon industri kreatif baru di Yogyakarta. Magnitude event ini dipastikan juga menular ke kota-kota lain melalui rangkaian promosi dan arus peserta yang datang dari luar kota seputar Yogyakarta (Solo, Magelang, Purwokerto, Semarang, dan Salatiga) sebagai market base dari industri ini.</p>
<p>THE PARADE 2009 yang akan diselenggarakan pada tangal 18-20 Desember tahun ini mempunyai konsep &#8216;Parade clothing label dan distro, komunitas industri kreatif, serta komunitas urban arts dan sports&#8217; dengan tujuan Membangun pasar clothing dan berbagai bentuk pameran karya kreatif anak muda dengan didukung rangkaian acara untuk dinikmati, diikuti dan diapresiasi oleh seluruh masyarakat muda seperti Local Clothing and Distro Festival, THE PARADE Exhibitor Award, Fashion show, modern dance, visual design and artwork exhibition, x-games and alternative sport contest, indie music performance, dan masih banyak lagi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.raxzel.com/?feed=rss2&amp;p=86</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sukses Dagadu dan Raxzel Lewat Kaos Oblong</title>
		<link>http://blog.raxzel.com/?p=47</link>
		<comments>http://blog.raxzel.com/?p=47#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 01:17:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Raxzel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Distro]]></category>
		<category><![CDATA[Strategy]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.raxzel.com/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[SumberÂ  : Portal HR
Bisnis ternyata tidak se-njelimet yang dibayangkan. Eksistensi Dagadu dan Raxzel, merek oblong dalam negeri, nyatanya lahir tanpa proses perencanaan dan strategi panjang. Kuncinya hanyalah passion dan take action!
Merek Dagadu Djokdja begitu melekat bagi masyarakat Yogyakarta dan pecinta kaos oblong. Perjalanan usaha ini dirintis dari keresahan sejumlah mahasiswa kreatif dari kampus Universitas Gadjah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SumberÂ  : <a href="http://www.portalhr.com/majalah/edisisebelumnya/bisnis/1id1415.html">Portal HR</a></p>
<p>Bisnis ternyata tidak se-njelimet yang dibayangkan. Eksistensi Dagadu dan Raxzel, merek oblong dalam negeri, nyatanya lahir tanpa proses perencanaan dan strategi panjang. Kuncinya hanyalah passion dan take action!</p>
<p>Merek Dagadu Djokdja begitu melekat bagi masyarakat Yogyakarta dan pecinta kaos oblong. Perjalanan usaha ini dirintis dari keresahan sejumlah mahasiswa kreatif dari kampus Universitas Gadjah Mada pada awal 1994. Mulanya, mereka ingin menyampaikan minat dan idealisme tentang gagasan mengenai artefak, peristiwa, bahasa, serta budaya masyarakat Yogyakarta melalui rancangan grafi s yang nyeleneh dan nyentrik, sekaligus membuat penasaran. Uniknya, media yang dipilih adalah kaos oblong.</p>
<p>Direktur dan pendiri PT Aseli Dagadu Djokdja, A. Noor Arief kepada Majalah Human Capital berbagi bagaimana Dagadu bisa eksis selama lebih dari 15 tahun. Arief menceritakan sebutan &#8220;Dagadu-Djokdja&#8221; merupakan brand atau merek dagang sekaligus nama produsen. Arief mengakui, sebagaimana gagasan dan aktivitas spontan yang terjadi pada kelompok anak-anak muda kreatif saat memulai kegiatan wirausaha, Dagadu Djokdja pun muncul tanpa alasan dan latar belakang yang jelas.</p>
<p>&#8220;Nama tersebut muncul di saat-saat terakhir menjelang hari pertama penjualan. Itu pun hanya didorong oleh kebutuhan praktis untuk memberi nama sebutan bagi sebuah produk, jauh dari strategi terencana dalam mengembangkan sebuah merek,&#8221; tuturnya. Arief menambahkan, serangkaian penjelasan perihal nama tersebut baru disusun belakangan ketika sejumlah orang mulai menanyakan arti ataupun makna di balik nama dan gambar mata yang senantiasa menempel di setiap produk Dagadu.</p>
<p>Menurut Arief, Dagadu dalam bahasa slengean anakanak muda Yogyakarta berarti &#8220;matamu&#8221;. Di kemudian hari nama ini diberi penjelasan. Pertama, dalam wacana desain grafi s, fi gur mata adalah salah satu idiom yang digunakan untuk menggambarkan citra kreativitas. Dagadu yang hadir melalui logo berbentuk dasar mata diharapkan dapat mewakili pandangan kelompok yang selalu berusaha menempatkan kreativitas sebagai aspek utama dalam setiap aktivitasnya.</p>
<p>Arti Dagadu yang kedua adalah, citra mata diasosiasikan secara bebas dengan aktivitas sightseeing atau cuci mata dengan berjalan-jalan keliling kota. Ini diharapkan dapat merepresentasikan kepedulian kelompok ini terhadap masalah-masalah perkotaan dan ke pariwisataan. Sedangkan arti lain dari Dagadu adalah sebagai kosa-kata yang familiar dalam pergaulan informal di Yogyakarta. &#8220;Hingga pada gilirannya diharapkan dapat mewakili citra produk sebagai cinderamata khas Yogyakarta,&#8221; imbuh sarjana arsitek ini.</p>
<p>Arief menyebutkan, Dagadu saat ini memiliki 9 orang tenaga design creative dari 50 orang karyawan di semua divisi. Dalam hal pengelolaan SDM, Arief berterus terang tidak mempunyai strategi khusus. &#8220;Paling kami menciptakan iklim bahwa Dagadu itu menjadi rumah bagi karyawan, pendiri, dan mitra binaan,&#8221; sambungnya. Perjalanan panjang memang tidak dipungkiri Arief menjadikan Dagadu makin dewasa dalam urusan bisnis.</p>
<p>Namun demikian, hal yang paling dikhawatirkan Arief ternyata justru masalah rutinitas. &#8220;Rutinitas adalah musuh dari inovasi, sehingga kami merasa perlu membuat semacam terminal untuk memutuskan rutinitas dengan kegiatan bersama seperti outing dan lainnya,&#8221; ia menjelaskan.</p>
<p>Mengenai SDM kunci di Dagadu, Arief tidak terlalu ambil pusing bila ada karyawannya yang diambil perusahaan lain. &#8220;Kami bersyukur Yogyakarta ini memberikan atmosfi r yang baik sehingga belum pernah ada bajak-membajak talent. Yang ada karyawan justru resign karena ingin mengembangkan diri. Kalau untuk urusan ini, justru kami sangat mendukung dan mendorong. Malah di antara mereka banyak yang menjadi mitra kerja Dagadu,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Di lain tempat, cerita Try Atmojo dalam membesarkan kaos oblong bermerek Raxzel tidak berbeda jauh dengan Dagadu. Pada awalnya Try tidak berpikir jauh untuk terjun dan menekuni bisnis kreatif. &#8220;Saya terpikir untuk mulai bisnis ini karena dari pengamatan dan survei kecil-kecilan di industri ritel fashion. Kenapa memilih berwirausaha, karena jalur ini yang relatif paling mudah untuk mulai, hanya diperlukan keberanian, keyakinan, dan ketajaman feeling yang bisa diasah. Hal-hal lainnya bisa learning by doing,&#8221; katanya.</p>
<p>Try menjelaskan strategi awal dan tahapan yang dia lalui dalam memulai bisnisnya. &#8220;Bisnis distro adalah bagian dari bisnis ritel fashion pada umumnya. Karena berkonsep independent store, mau tidak mau saya harus mencari dan memilih lokasi yang tepat,&#8221; katanya. Target market distro adalah anak-anak ABG dan anak-anak kuliahan. Karena itu, Try melanjutkan, dalam memilih lokasi store ia mencari tempat yang banyak didatangi anak muda, bisa di perumahan, mal atau tempat hangout favorit anak-anak muda.</p>
<p>Ia menambahkan, selain memilih lokasi, strategi khusus untuk bisnis distro terletak pada bagaimana pemiliknya mengonsep dan mendesain layout toko, memilih jenis barang, membangun promosi, serta membaca tren mode. Saat ini Try mengoperasikan enam gerai distro di wilayah Tangerang dan sekitarnya. &#8220;Target khusus 2010 adalah mengembangkan brand Raxzel agar semakin dikenal di industri ini, baik dari segi kualitas maupun distribusinya,&#8221; ujar Try berharap.</p>
<p>Dari sisi SDM, Try mengakui bahwa industri kreatif memerlukan SDM yang unik. &#8220;Memang industri ini tidak terlepas dari pertemanan serta komunitas. Dalam hal rekrutmen di posisi tertentu seperti desainer dan creative, misalnya, memang agak selektif. Ini karena terkait dengan selera dari konsep brand produk kami,&#8221; katanya menjelaskan.</p>
<p>Try meneruskan, untuk posisi lain seperti store manager dan staf toko, perekrutan dilakukan dengan mencari SDM yang lebih dekat dengan target konsumen dan berpengalaman. &#8220;Sedangkan untuk pengembangan karyawan dan upaya mempertahankan mereka, secara regular kami selalu berdiskusi, studi banding dan memberikan informasi-informasi terkini tentang industri ini, selain dengan pola reward dan membangun ikatan personal,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Soal perencanaan produk di Raxzel, Try menyebutkan, jangka waktunya relatif lebih pendek. &#8220;Siklus industri ini berkonsep limited produk. Dalam satu design kami hanya memproduksi maksimal 60 pieces. Karena itu kami harus terus-menerus meng-update tren-tren terbaru. Caranya dengan banyak bergaul, surfi ng internet, dan lain-lain,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Sementara itu, Arief menuturkan, di Dagadu dalam setahun penanggalan tidak dilakukan pembagian tema model. &#8220;Biasanya kami menyikapi dari topik yang ramai diperbincangkan. Pesannya sederhana, kami ingin menunjukkan kepedulian namun tidak lantas ikut-ikutan atau latah. Justru di situlah tantangannya. Kami saat ini tengah mengumpulkan ide-ide yang akan diangkat untuk 2010 mendatang,&#8221; ungkapnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.raxzel.com/?feed=rss2&amp;p=47</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indie Clothing Expo Surabaya</title>
		<link>http://blog.raxzel.com/?p=36</link>
		<comments>http://blog.raxzel.com/?p=36#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Dec 2009 14:19:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Raxzel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[clothing]]></category>
		<category><![CDATA[Distro]]></category>
		<category><![CDATA[expo]]></category>
		<category><![CDATA[Indie]]></category>
		<category><![CDATA[kickfest]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.raxzel.com/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya gelaran Indie Clothing Expo Surabaya terlaksana dengan sukses , tepatnya di Gramedia Expo Surabaya 18 â€“ 20 Desember 2009. Puluhan brand/label clothing ikut meramaikan event akhir tahun ini diantaranya datang Â dari Bandung ( Ouval, UNKL347, Invictus, Scremous dll ) Â Jakarta ( Raxzel, Tendencies, Noin Brand ) Yogyakarta selain dari beberapa brand arek Surabaya sendiri.
Antusiasme [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-41" title="ICE2009" src="http://blog.raxzel.com/wp-content/uploads/2009/12/ICE20091-300x200.jpg" alt="ICE2009" width="300" height="200" />Akhirnya gelaran Indie Clothing Expo Surabaya terlaksana dengan sukses , tepatnya di Gramedia Expo Surabaya 18 â€“ 20 Desember 2009. Puluhan brand/label clothing ikut meramaikan event akhir tahun ini diantaranya datang Â dari Bandung ( <span style="color: #3366ff;"><a href="http://www.ouvalresearch.com">Ouval</a></span>, <a href="http://www.unkl347.com/blog/?p=304"><span style="color: #3366ff;">UNKL347</span></a>, <span style="color: #3366ff;"><a href="http://www.invcts.com">Invictus</a></span>, Scremous dll ) Â Jakarta ( <span style="color: #3366ff;"><a href="http://raxzel.com/index2.php">Raxzel</a></span>, Tendencies, <span style="color: #3366ff;"><a href="http://www.noinbrand.com">Noin Brand</a></span> ) Yogyakarta selain dari beberapa brand arek Surabaya sendiri.</p>
<p>Antusiasme pecinta produk distro Â arek Surabaya sendiri cukup heboh, terbukti dari jumlah pengunjung selama tiga hari berturut-turut tidak pernah sepi, walaupun cuaca mendung dan hujan deras pada hari penutupan, tetapi tidak menyurutkan pengunjung untuk datang dan berbelanja, apalagi hampir semua brand mengadakan sale habis2an menjelang tutup tahun .</p>
<p>Melihat banyaknya pengunjung, akhirnya selama dua hari terakhir, acara di buka sampai dengan pukul 24.00 WIB</p>
<p>Selain menampilkan produk clothing, ada juga pemutaran film2 Indie di sertai dengan workshop tentang bagaimana membuat film indie , tidak ketinggalan pula di ramaikan dengan penampilan komunitas low rider Surabaya, performing band : Koil , White shoes and the couple company serta band2 lain.</p>
<p>Secara keseluruhan event ini berlangsung cukup meriah, dengan kerjasama antaraÂ  <span style="color: #3366ff;"><a href="http://www.kickfest.com">Kick</a></span> dan <span style="color: #3366ff;"><a href="http://www.dyandra.com">Dyandra Promosindo</a></span> selaku event Organizer</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.raxzel.com/?feed=rss2&amp;p=36</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fenomena Bisnis Distro</title>
		<link>http://blog.raxzel.com/?p=19</link>
		<comments>http://blog.raxzel.com/?p=19#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 03:08:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Raxzel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Business]]></category>
		<category><![CDATA[Distro]]></category>
		<category><![CDATA[Fashion]]></category>
		<category><![CDATA[Indie]]></category>
		<category><![CDATA[Mode]]></category>
		<category><![CDATA[Trend]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.raxzel.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Apa sih distro itu pak ? pertanyaan itu yang sering di lontarkan ke saya. Kadang bingung juga saya menjawabnya. Mungkin sekilas saya dapat ceritakan seperti ini .
Distro atau distribution store  pada awal sejarah di dirikannya ( sekitar tahun 1994 oleh anak-anak muda di Bandung ) adalah sebagai tempat untuk menjual barang2 merchandise,pernak-pernik atau kaset [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-20" title="indie" src="http://blog.raxzel.com/wp-content/uploads/2009/11/indie-300x255.jpg" alt="indie" width="300" height="255" />Apa sih distro itu pak ? pertanyaan itu yang sering di lontarkan ke saya. Kadang bingung juga saya menjawabnya. Mungkin sekilas saya dapat ceritakan seperti ini .</p>
<p>Distro atau <span style="font-style: italic;">distribution store </span> pada awal sejarah di dirikannya ( sekitar tahun 1994 oleh anak-anak muda di Bandung ) adalah sebagai tempat untuk menjual barang2 merchandise,pernak-pernik atau kaset album bagi band-band indie, selain juga komunitas pecinta extreme sport seperti skateboard,BMX atau surfing.</p>
<p>Distro awalnya di idealiskan oleh anak-anak muda tersebut  sebagai <span style="font-style: italic;">counter culture </span>terhadap industri yang sudah mapan , industri rekaman yg sudah mass product contohnya, band2 indie tersebut secara bergerilya memproduksi &amp; memasarkan produk rekaman mereka lewat jalur distro bukan melalui gerai2 resmi.</p>
<p>Band-band indie itupun saat mereka manggung / pentas , baju yg di kenakan akan memakai baju yang mereka ciptakan sendiri, paling unik , norak bahkan kadang sedikit <span style="font-style: italic;">nyleneh,</span> dan itu tidak mungkin mereka dapatkan di mall-mall,  kalaupun ada mungkin barang impor yang harganya selangit.</p>
<p>Distro sebagai cerminan dari konsep budaya DIY ( Do It Yourself ) , anti mainstream, unik, beda , creative dan local movement .</p>
<p>Pada kurun empat tahun terakhir, konsep distro sudah mulai sedikit lebih melebar, dengan semakin banyaknya pemain yang terjun dalam industri ini.</p>
<p>Mereka melihat potensi market untuk anak muda ini sangat luas serta makin dapat di terimanya konsep distro ini bukan hanya sekedar di peruntukkan bagi kaum indie saja, tetapi sudah mulai bergeser sebagai bentuk dari lifestyle.</p>
<p>Di kota â€“ kota besar , anak-anak muda sekarang ini begitu gandrung dengan produk-produk distro. Keunggulan dari produk distro selain unik, creative, up to date, limited ( jadi exclusive ) juga <span style="font-weight: bold;">â€œgue bangetâ€</span> yang mungkin tidak akan mereka dapatkan di toko atau di gerai2 seperti Matahari Ramayana, Sogo dll .</p>
<p>Masing-masing merek clothing pun mempunyai ciri khas atau karakter yang berbeda-beda , ada yang bertema musik, extreme sport , street art, hi-tech, typography, gothic , ada juga yang bertemakan kampanye tentang pemanasan global seperti label saya <a href="http://www.raxzel.com/">RAXZEL</a></p>
<p><span style="font-weight: bold;">Distro dan perkembangannya</span></p>
<p>Jelas sekali pada saat ini, distro telah menjadi semacam industri yang sudah di perhitungkan dalam kancah perekonomian nasional, di saat industri garment tanah air meriang di banjiri oleh produk impor dar China .</p>
<p>Distro dengan spirit local product nya , mampu bertahan dari serbuan produk impor. Dalam industri ini, banyak sekali pengusaha2 kecil yang terlibat, mulai dari tukang jahit, tukang sablon/bordir yang rata-rata semua di kerjakan dalam skala home industry.</p>
<p>Tidak seperti industri UKM lain yang biasanya di manja ( fasilitas, pendanaan &amp; akses peluang ) oleh pemerintah , industri kreatif anak2 muda hampir tidak di lirik oleh pemerintah, padahal rata2 usaha ini di awali dari sekedar hobi dengan modal yg pas-pasan serta skill pengelolaan usaha yang apa adanya .</p>
<p>Baru pada tahun2 belakangan ini, pemerintah mulai memberikan akses dan sarana2 untuk membantu industri kreatif ini lebih berkembang, mengingat efek multiflyer ekonominya yang cukup luas.</p>
<p>Pada saat ini kata distro telah menjadi semacam â€œ public domain â€œ yang siapapun bebas memakainya, walaupun telah melenceng dari konsep dan spirit pada saat di dirikan dulu. Makna â€œdistroâ€ telah mengalami degradasi arti, menjadi semacam â€œcollection â€œ.</p>
<p>Industri ini sudah semakin semarak, hampir di setiap kota di sudut-sudut jalan telah berdiri distro-distro,.<br />
Anak-anak muda ini pun terus bergerak, selalu creative untuk menciptakan hal-hal baru, banyak dari teman-teman saya telah menjadi milliader di usia 25 an dari bisnis ini.</p>
<p>Dengan mengusung konsep masing2, mereka menjalankan bisnis ini dengan penuh semangat dan idealisme , banyak juga yang hanya sekedar ikut-ikutan yg hanya mampu bertahan tidak lebih dari 6 bulan, Rata-rata mereka tidak tahu persis bagaimana &#8220;rootnya&#8221; serta konsep dalam meng-operate distronya dan hanya sekedar melihat dari segi bisnis semata .</p>
<p>Sampai kapan konsep distro ini akan bertahan ?<br />
Waktu yang akan membuktikan.</p>
<p>Try Atmojo</p>
<p><span style="color: #3366ff;"><span style="color: #33cccc;"><a href="http://blog.raxzel.com/?p=19">Fenomena Bisnis Distro</a></span> </span>adalah artikel dari<span style="color: #00ffff;"><a href="http://blog.raxzel.com"> blog.raxzel.com</a></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.raxzel.com/?feed=rss2&amp;p=19</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jurus Ampuh Bertahan Lama di Bisnis Distro</title>
		<link>http://blog.raxzel.com/?p=13</link>
		<comments>http://blog.raxzel.com/?p=13#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 07:11:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Raxzel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Business]]></category>
		<category><![CDATA[Distro]]></category>
		<category><![CDATA[Fashion]]></category>
		<category><![CDATA[Trend]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.raxzel.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[www.swa.co.id Kamis, 17 Juli 2008 Oleh : Eva Martha Rahayu  Demam bisnis distro sempat berada di titik puncak tahun 2002 dengan 300-an pemain. Kini, kompetisi ketat merontokkan nyaris 50%-nya. Bagaimana lika-liku sejumlah distro yang masih bertahan? Biang kemacetan di akhir pekan. Itulah julukan yang selalu dialamatkan ke sebuah gedung di Jl. Riau 18, Bandung. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-14" title="t shirt1" src="http://blog.raxzel.com/wp-content/uploads/2009/11/t-shirt1-300x300.jpg" alt="t shirt1" width="300" height="300" /><span style="color: #3366ff;"><strong>www.swa.co.id</strong></span> Kamis, 17 Juli 2008 Oleh : Eva Martha Rahayu  <em>Demam bisnis distro sempat berada di titik puncak tahun 2002 dengan 300-an pemain. Kini, kompetisi ketat merontokkan nyaris 50%-nya. Bagaimana lika-liku sejumlah distro yang masih bertahan?</em> Biang kemacetan di akhir pekan. Itulah julukan yang selalu dialamatkan ke sebuah gedung di Jl. Riau 18, Bandung. Gedung itu memang berbeda dari deretan bangunan di depan, kiri dan kanannya yang berupa gerai factory outlet (FO). Di sana ada skate park, lahan luas yang sering dipakai untuk konser musik dan tempat nongkrong anak gaul. Ya, anak-anak muda sangat akrab dengan gerai yang dikenal sebagai 18th Park itu. Boleh dibilang, 18th Park adalah satu-satunya distribution outlet (distro) terbesar di kawasan itu, bahkan di Bandung. Di satu atap, 18th Park terdiri dari 23 toko dengan 200 merek produk. Mulai dari fashion, tas, sepatu, aksesori, sepeda hingga kuliner.  Dulu gedung 18th Park merupakan gerai FO Emirate yang menjual aneka busana Muslim. Mungkin karena sepi pembeli, garai Emirate ditutup dan gedungnya ditawarkan ke Rommy Zulkarnain. Kebetulan kala itu Rommy adalah pemasok Emirate dan memiliki konsep bisnis distro yang unik. â€œDalam perjanjian sewa gedung ini, saya tidak boleh buka FO lagi,â€ kata Rommy. Di tangannya, per Mei 2006 bangunan tua seluas 6.500 m2 itu disulap menjadi distro yang bak magnet mendatangkan muda-mudi Bandung dan sekitarnya, bahkan Jakarta.  Memang Rommy baru dua tahun terakhir terjun ke bisnis distro. Namun, ia sudah belasan tahun bergumul dengan dunia bisnis garmen atau FO. Paling tidak, ia sudah paham karakter dasar bisnis fashion itu. Menurutnya, ada dua hal yang membedakan distro dari FO: pertama, eksklusivitas. Produk distro merupakan hasil kreasi anak muda kreatif dengan jumlah desain yang terbatas, sedangkan produk FO hasil manufaktur yang bersifat massal. Kedua, segmen pasar; distro membidik kawula muda, sedangkan FO menyasar orang dewasa.  Menurut Ketua Umum Kreatif Independen Clothing Community, Tb. Fiki Chikara Satari, karakter bisnis distro adalah easy come easy go. â€œPemainnya gampang datang dan pergi,â€ ujar pemimpin perkumpulan pengusaha distro se-Indonesia itu. Asalkan punya desain fashion kreatif, mereka yang berminat menjajal usaha ini bisa menitipkan produk ke distro yang dikelola dalam satu atap dengan berbagai merek. Jadi, tidak perlu modal besar untuk produksi barang ataupun sewa gedung sendiri. Ia mencontohkan, saat membuka distro Airplane miliknya di bawah bendera CV Arrasy Stylisindo Aesthetic, cuma ada modal sekitar Rp 300 juta.  Lantaran kurang serius menggarap pasar distro yang diakui sejumlah pemainnya mengalami trial and error, tak mustahil jika lama-kelamaan mereka berguguran akibat seleksi alam. Persaingan sengit bisnis distro yang awalnya muncul pada 1996 itu membuat mereka tak bisa eksis. â€œKalau tidak salah, sekarang jumlah distro yang kecil-kecil cuma belasan yang masih hidup, seperti distro Anonim dan Arena di Bandung, serta distro Bloop dan Square Inc di Jakarta,â€ ujar Yusuf Zainudin, pemilik bisnis clothing merek Proshop dan Rockster.  Sementara itu, distro-distro yang masih bertahan, kalau dipukul rata, umurnya 10 tahunan. Salah satunya, distro Airplane yang dibesut Fiki bersama dua rekannya pada 1998 kini berbiak menjadi tiga gerai di Bandung. Hebatnya, Airplane juga memasok produk ke 94 distro di Indonesia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.raxzel.com/?feed=rss2&amp;p=13</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Raxzel Creative Independent</title>
		<link>http://blog.raxzel.com/?p=3</link>
		<comments>http://blog.raxzel.com/?p=3#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 04:47:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Raxzel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.raxzel.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Dengan pengalaman kami dalam bidang toko retail selama lebih dari lima tahun, pada pertengahan tahun 2005 kami membuka unit usaha yang bergerak dalam bidang usaha retail fashion atau biasa di sebut dengan DISTRO
Distro kami menjual berbagai macam kebutuhan distro &#38; clothing amtara lain t-shirt,sweather, jacket, tas, topi , sandal dan lain lain.
Dengan target market utama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-11" title="sweather1" src="http://blog.raxzel.com/wp-content/uploads/2009/11/sweather1.jpg" alt="sweather1" width="195" height="195" />Dengan pengalaman kami dalam bidang toko retail selama lebih dari lima tahun, pada pertengahan tahun 2005 kami membuka unit usaha yang bergerak dalam bidang usaha retail fashion atau biasa di sebut dengan DISTRO</p>
<p>Distro kami menjual berbagai macam kebutuhan distro &amp; clothing amtara lain t-shirt,sweather, jacket, tas, topi , sandal dan lain lain.<br />
Dengan target market utama kami adalah anak-anak muda yang fashionable serta aware terhadap perkembangan trend mode.</p>
<p>Saat ini kami bekerjasama dan menjadi distributor untuk brand-brand yang sudah cukup terkenal di industri clothing dan distro di Indonesia, antara lain : OUVAL, UNKL-347, SKATER,FIREBOLT,INSPIRED,DEADSEVENTIEZ serta brand brand lain yang sedang berkembang .</p>
<p>Selain itu, saat ini salah satu divisi usaha kami sendiri adalah mengembangkan dan memproduksi own label dengan brand <span style="font-weight: bold; color: #0099ff;">RAXZEL</span><span style="color: #0099ff;"> </span>dengan karakter dan tema serta pesan pesan khusus tentang Global Warming.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.raxzel.com/?feed=rss2&amp;p=3</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
